Bagian Kedua: Mengapa Profesionalisme Penting bagi Gereja
1. Profesionalisme Sebagai Wujud Persembahan Terbaik
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menuntut persembahan yang terbaik, bukan yang cacat atau sisa-sisa:
"Apabila kamu membawa seekor binatang yang buta untuk dipersembahkan, bukankah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, bukankah itu jahat? Coba bawalah itu kepada penguasa daerahmu, apakah ia berkenan kepadamu atau menyambutmu dengan baik? Firman Tuhan Semesta Alam." — Maleakhi 1:8
Prinsip ini berlaku juga untuk pengelolaan gereja. Memberikan pelayanan yang asal-asalan, administrasi yang amburadul, atau pemimpin yang tidak kompeten adalah bentuk persembahan "binatang cacat" kepada Tuhan. Profesionalisme adalah bentuk kita mempersembahkan yang terbaik.
Martin Luther, tokoh Reformasi Gereja, pernah berkata:
"The Christian shoemaker does his duty not by putting little crosses on the shoes, but by making good shoes, because God is interested in good craftsmanship." (Seorang pembuat sepatu Kristen menjalankan tugasnya bukan dengan menaruh salib kecil pada sepatu, melainkan dengan membuat sepatu yang baik, karena Tuhan menghendaki pengerjaan yang berkualitas.) — Martin Luther
Demikian pula, gereja melayani Tuhan bukan hanya dengan doa dan khotbah yang rohani, tetapi juga dengan administrasi, keuangan, dan manajemen yang baik.
2. Profesionalisme Membangun Kepercayaan Jemaat
Ketika gereja dikelola secara profesional, jemaat akan merasa aman menitipkan persembahan, waktu, dan keterlibatan mereka. Sebaliknya, gereja yang dikelola secara asal-asalan akan kehilangan kepercayaan, dan pada akhirnya kehilangan jemaat.
John Wesley, pendiri Gerakan Methodist, mengatakan:
"Earn all you can, save all you can, give all you can." (Hasilkan sebanyak yang kamu bisa, hematlah sebanyak yang kamu bisa, berikanlah sebanyak yang kamu bisa.) — John Wesley
Prinsip ini menuntut pengelolaan yang cermat dan bertanggung jawab. Ketiga unsur ini mustahil dilakukan tanpa profesionalisme dalam administrasi dan keuangan.
3. Profesionalisme Menghindarkan Gereja dari Skandal
Banyak skandal yang mencoreng nama gereja bermula dari pengelolaan yang buruk: uang yang tidak dicatat, pemimpin yang tidak diawasi, keputusan yang diambil sepihak. Profesionalisme dengan sistem check and balance akan mencegah hal-hal seperti itu.
Pepatah lama dalam tradisi gereja mengatakan:
"Do not put yourself in a position where you can be tempted." (Jangan menempatkan dirimu pada posisi di mana kamu dapat tergoda.)
Sistem yang baik melindungi orang baik dari godaan, dan mencegah orang buruk melakukan kejahatan.
Bagian Ketiga: Transparansi Sebagai Tuntutan Iman
1. Hidup dalam Terang
"Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, kita mempunyai persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa." — 1 Yohanes 1:7
Transparansi adalah wujud nyata dari kehidupan dalam terang. Gereja yang menyembunyikan laporan keuangan, proses pengambilan keputusan, atau masalah internal sebenarnya sedang hidup dalam kegelapan. Hal ini bertentangan dengan hakikat gereja sebagai tubuh Kristus.
2. Tidak Ada yang Tersembunyi di Hadapan Tuhan
"Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban." — Ibrani 4:13
Jika di hadapan Tuhan segala sesuatu telanjang dan terbuka, maka mengapa di hadapan jemaat harus tertutup? Pengurus gereja yang menyembunyikan sesuatu dari jemaat sebenarnya sedang menipu diri sendiri, karena Tuhan tetap melihat segalanya.
3. Transparansi Menurut Tokoh-Tokoh Dunia
Warren Buffett, meskipun bukan tokoh agama, memberikan prinsip yang sangat relevan:
"Transparency is not just about providing information; it's about providing information that is useful, accurate, and timely." (Transparansi bukan hanya soal memberikan informasi; tetapi memberikan informasi yang berguna, akurat, dan tepat waktu.) — Warren Buffett
Bagi gereja, ini berarti laporan keuangan tidak cukup hanya dibuat, tetapi harus dipublikasikan secara rutin, dalam format yang mudah dipahami jemaat, dan pada waktu yang tepat.
Louis Brandeis, seorang hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat pada tahun 1913 pernah berkata:
"Sunlight is said to be the best of disinfectants." (Sinar matahari disebut sebagai disinfektan terbaik.) — Louis Brandeis
Kutipan ini sangat cocok untuk gereja. Banyak masalah dalam gereja akan otomatis hilang atau tidak akan pernah terjadi jika ada transparansi penuh. Cahaya keterbukaan akan membunuh "kuman-kuman" konflik, kecurigaan, dan kecurangan. (DTS)